Implementasi Kasus Munir
Delapan tahun yang lalu kami menghantarkan keberangkatannya. Munir Said Thalib, seorang aktivis hak asasi manusia yang teguh. Ia akan berangkat studi ke Belanda. Tak semua teman aktivis mengiringinnya ke bandara. Memang, tetapi hampir semua menyambut rencana studinya, mengantarnya dengan semangat.Kami berpikir bahwa ia terlalu letih berjuang. Ia perlu rehat dan menyegarkan diri dengan ilmu pengetahuan, sebelum kembali ke Tanah Air sebagai pejuang hukum yang lebih kuat lagi. Dalam perpisahan di terminal keberangkatan itu, semua orang berfoto – foto dengan
senang. ( Foto – foto yang masih bisa dipandangi sampai sekarang ).
Tak sampai 24 jam setelah itu ia meninggal dunia dalam pesawat Garuda, dengan racun arsenik di dalam tubuhnya. Ia dibunuh, secara sangat terencana. Pollycarpus Priyanto telah dihukum sebagai pelakunya. Ia seorang mantan pilot misterius yang tiba – tiba saja menemani Munir di sebagian perjalanan. Tapi, siapa yang merencanakan pembunuhan terencana itu belum tersentuh hingga kini. Tentu saja, dugaan mengarah kepada Badan Intelijen republik ini sendiri. Munir tidak pernah menawar mengenai siapa pelanggar hak asasi manusia ataupun siapa korupsi.Munir seharusnya menjadi babak baru pelajaran sejarah “ kemerdekaan” kita. Ia dibunuh di permulaan Era Reformasi. Seolah penanda bahwa benih kekerasan dari era rezim militer tidak sirna begitu saja. Benih kekuasaan sewenang – wenang itu tetap ada, dan mencari tubuh – tubuh baru dalam era baru.
Pemerintah sampai sekarang tidak berdaya membongkar dalang pembunuhannya, juga otak dibalik hilangnya banyak aktivis muda diperalihan rezim Soeharto ke Era Reformasi. Ia hendaknya menjadi penanda bahwa generasi sekarang tak bisa menunda lagi untuk melihat sejarah negerinya secara benar. Generasi sebelumnya, yang di besarkan dalam era Soekarno maupun Soeharto, dicekcoki dalam pelajaran
sejarah yang dikemas dalam semangat “ pendidikan sejarah perjuangan bangsa “. Disini seolah – olah sejarah indonesia adalah sejarah mengusir penjajah asing. Orang asing Belanda, Portugis, Inggris, dan Jepang menjajah bangsa kita dan kita akhirnya bisa mengusir para penjahat itu.
Tanpa sengaja, pelajaran sejarah ini membuat kita berfikir dalam drama Hollywood, atau film pop negeri mana pun, dimana ada penjahat dan ada pahlawan. Masalahnya, setelah kita berhasil mengusir penjajah, kita pun bingung karena kita kehilangan penjahat, padahal kita masih berpikir dalam pola penjahat pahlawan. Maka itu, ketika konflik di dalam bangsa terjadi, kita pun masih memakai pola pandang yang sama. Akibatnya, semua yang berbeda dengan penguasa dicap sebagai musuh berbahaya.
Juga Munir, sebagai rezim terdahulu. Tapi orang – orang seperti Munir akan selalu berbahaya bagi kekuasaan sebab orang – orang seperti Munir sebagai menjadi penanda bahwa kekuasaan harus dibatasi. Di Era Reformasi ini dorongan korupsi dan penyalahgunaan wewenang tidak hilang, bahkan semakin terlihat dan menyebar. Para pelakunya tak akan pernah senang berhadapan dengan orang – orang seperti Munir. Mereka akan selalu berusaha menghilangkan orang – orang seperti Munir.Inilah saatnya generasi muda melihat sejarah Indonesia merdeka dengan cara yang lain dari orang – orang tua.
Hari ini kita tidak bisa menyalah – nyalahkan pihak lain lagi. Benih – benih kerusakan korupsi, kerakusan, kekerasan berada dalam bangsa ini sendiri. Pembunuhan Munir berada dalam tubuh bangsa ini, dan mereka masih dilindungi.Generasi muda harus mengakui itu, menerimanya sebagai bagian ingatan bersama. Generasi masa ini dan depan tidak bisa lagi mencari kesalahan dari penjajah sebab para penjajah telah pergi selama 70 tahun silam.Kerusakan yang mereka warisi sekarang bukan warisan Belanda lagi, melainkan warisan ayah – ibu dan kakek – nenek mereka sendiri. Pembunuhan Munir berada dalam keluarga sendiri. Inilah saat kita merubah cara pandang dan memperbaikinya tanpa putus asa.
Komentar : “ Saya sangat prihatin dengan bangsa ini yang semakin lama semakin rumit dalam kehidupan hukum di Tanah Air tercinta ini, kenapa pahlawan bangsa ini yang begitu gagah membela negara ini seperti beliau Munir Said Thalib ini, malah dibunuh dengan begitu mengenaskan yaitu dengan racun arsenik. Padahal, beliau ini ingin menegakkan keadilan, mencari pelanggar hak asasi manusia, dan memberantas korupsi. Ironisnya, pemerintah sama sekali tidak berdaya membongkar dalang kasus pembunuhan Munir, juga otak hilangnya para aktivis muda di peralihan rezim Soeharto ke Era Reformasi. Namun, semakin negara ini dewasa semakin maraknya korupsi di negara ini dan penyalahgunaan kekuasaan pun semakin menjadi dimana – mana, malah mereka tidak malu dan semakin menyebar. Para pelakunya takkan pernah senang berhadapan dengan orang seperti Munir dan mereka akan selalu menghilangkan para aktivis muda yang seperti beliau, tetapi generasi muda tidak akan menyerah demi keadilan di negara ini. Bangsa Indonesia ini butuh sekali generasi seperti beliau yang akan meneruskan perjuangan beliau sampai para koruptor dan pelanggar HAM menghilang dari negara ini.
Referensi :
Koran sindo ( Ayu Utami )